Minggu, 27 Februari 2011
Minggu, 12 Desember 2010
APALAH ARTI SEBUAH NAMA
Seputar nama, aku juga pernah mendapatkan cerita tentang seorang anak yang diberi nama ayahnya dengan nama 'Syaithonirojim' (syetan yang terkutuk). Masya AlLoh bener miris. Mungkin dalam benak orang tuanya hendak memberikan nama Islami ke anaknya namun yang terjadi justru dia memberikan nama untuk anaknya dengan nama yang artinya sangat buruk. Dalam cerita lain, seorang anak dengan nada polos dan melas mengungkapkan arti dibalik namanya yakni wanita malam. Lantaran namanya adalah Lailatun Nisa'. Padahal dalam Islam nama adalah doa dan harapan. Setiap kali orang memanggil kita, harapannya mereka akan mendoakan kita. Lalu bagaimana dengan dua nama tadi? Bukannya mendoakan yang baik justru menjerumuskan. Oleh karenanya pemberian nama pada anak harusnya dipilih nama yang indah dan memiliki arti yang bagus pula. Bahkan Rosulullah menganjurkannya seperti yang tertuang dalam sabda beliau " Sesungguhnya kamu kelak pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu, maka perindahlah namamu" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban).
Memberi nama yang baik adalah kewajiban dari orang tua. Sama halnya dengan kewajiban orang tua yang lain yaknii mendidik orang tua maka dalam mencari nama yang baik bagi anak harus diupayakan dengan maksimal. Orang tua harus menyiapkan jauh-jauh hari dengan mengetahui artinya nama tersebut. Jangan sampai nama tersebut justru menjerumuskan anak. Paling tidak kalau memang kita tidak mengerti artinya mungkin kita bia mengikuti tradisi orang dahulu untuk meminta nama pada para ulama.
Kamis, 21 Oktober 2010
OLEH-OLEH DARI SOLO
Beberapa saat yang lalu aku bertemu dengan tanteku di rumah Budheku yang ada di Gresik. Ada oleh-oleh menarik yang aku dapatkan dari Tanteku yang tinggal di Solo. Bukan makanan maupun minuman melainkan sebuah kisah menarik perjalanan hidup tanteku di Solo. Dan ini hendak ku bagikan pada Anda semua.
Sudah lama tanteku dan keluarganya mencoba mengadu nasib di Solo. Agak aneh memang karena biasanya orang mencoba mengadu nasib ke daerah metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya, tapi ini Tanteku justru pergi ke Solo. Sebuah pengalaman menarik dari perjalanan pengaduan nasib keluarga tanteku ini berawal dari adanya orang yang menawarkan untuk menyewakan kiosnya yang ada di persimpangan jalan Raya. Tanteku yang memiliki jiwa pebisnis meski tidak pernah kuliah di FE dan sering mengalami kegagalan ketika melakukan bisnis, tertarik dan pada akhirnya menyewa tempat itu.
Dulunya tempat itu adalah sebuah warung makanan namun karena sepi akhirnya pemiliknya tidak mau melanjutkan usahanya. Tanteku tidak ingin mengulang hal yang sama maka beliau mencoba untuk mencoba berdagang yang lain yakni dengan menjual minuman siap saji dan jus. Dua tiga hari warung yang disewa tanteku masih sepi. Suatu hari ada seorang pengendara sepeda motor yang mampir ke situ dan mencari makanan. Namun tanteku menjawab disini tidak jual makanan. Lalu orang itu berkata “ Lah itu yang dimakan apa? “ Saat itu kebetulan tanteku sedang makan masakannya yang sengaja dimasak di warung itu untuk keluarganya. Serta merta tanteku menjawab “ Ini ndak dijual mas. Untuk makan sendiri. “ Orang itu menjawab “ Ndak papa bu apa saja deh, saya lapar.” Akhirnya tanteku mengambilkan makanan untuk orang tersebut. Keesokan harinya orang tersebut kembali ke warung tanteku. Tanteku tentu saja heran. Apalagi ketika orang itu kembali meminta untuk membeli makanan yang dimasak tanteku. Melihat keheranan tanteku, Orang tersebut mengungkapkan alasan. ” Masakan ibu enak. Kenapa ndak coba jualan nasi aja bu? “. Tanteku kemudian mengkonsultasikan hal ini pada Omku. Akhirnya jadilah Tanteku membuka warung nasi. Lama kelamaan Alhamdulillah warung tanteku ramai. Dan sekarang omset tanteku tidak kurang dari lima ratus ribu sehari. Alhamdulillah..
Kita tidak pernah tahu dari arah manakah AlLoh mendatangkan rizky. Hanya AlLohlah yang tau. Sebagai hambaNya kita tak patut mempertanyakan dimana dan dari arah manakah rizky itu datang. Kita hanya melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menjemput rizky. Meski tidak selalu rizky itu datang pada jalur itu. Namun yang pasti AlLoh akan lebih memuliakan orang yang berusaha dari pada yang hanya berdiam diri dan menunggu datangnya rizky. So, jangan berhenti berusaha. Okey!!!
Kamis, 14 Oktober 2010
'PUTRI AYU'
Dengan kejadian-kejadian yang aku alami bersamanya, aku sungguh bersyukur kepada AlLoh atas segala yang AlLoh berikan padaku. Dan satu hal lagi yang bisa ku ambil dari semua kejadian ini. Betapa memang seorang bayi lahir dalam keadaan suci. Tergantung orang tuanya akan menjadikan apa. Dengan realita si Putri ayu yang merupakan anak tunggal membuat dia menjadi satu-satunya tempat orang tuanya melimpahkan kasih sayang. Sehingga mungkin orang tuanya tidak ridho rasanya ketika si putri melakukan aktifitas yang berat. Dan jadilah iya layaknya seorang Putri.
Dari kejadian ini sebuah renuangan besar telah kita dapatkan bahwa betapa orang tua sangat berperan besar dalam membimbing anaknya. Apalagi ketika dia masih kecil. Peran ini memang adalah peran dari kedua orang tuanya, baik ayah maupun ibu. Namun tidak bisa dipungkiri ibu memiliki porsi yang besar dalam pembentukan anak. Dan memang itulah peran yang diberikan oleh AlLoh kepada seorang wanita. Sebagai ibu (yang melahirkan, membesarkan, membimbing dan mendidik anak) dan sebagai pengatur rumah tangga. Semua wanita dikodratkan demikian begitupun aku dan wanita-wanita yang lain.
Sebagai penutup, kepada para wanita2 di seluruh dunia, Sadari peran Anda. Jalankanlah dengan Amanah. Nikmati setiap perjalanan menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga sebagai anugerah yang telah AlLoh berikan kepada kita.
Rabu, 11 Agustus 2010
Jakarta oh Jakarta
Belakangan ini beberapa orang yang ku kenal hijrah kesana. Wah tambah padat aja tu ibukota. Satu alasan yang sama yakni mengkuti suami. Wajar sih memang seorang istri sudah sepatutnya berada di dekat suami, memberi support dan menjadi teman berbagi suka dan duka. Kembali pada perkara pindah ke ibukota. Fenomena ini mungkin tidak hanya dialami oleh beberapa temanku saja. Banyak orang sekitar Jakarta atau bahkan dari luar pulau jawa juga merantau ke Jakarta. Apa gerangan yang menarik dari kota Jakarta sehingga mampu menjadi magnet buat banyak orang sehingga mereka berkeinginan pindah atau paling ga pergi ke Jakarta?
Jakarta, ibukota negara Indonesia.
Yups betul. Sudah umum diketahui bahwa DKI Jakarta adalah ibukota negara Indonesia. Anak SD saja tau. Dengan status Jakarta sebagai ibukota tentu saja Jakarta mengungguli daerah lain pada perkara sarana dan prasarana di hampir seluruh aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, dan hiburan berbagai fasilitas lain yang menggiurkan masyarakat Indonesia untuk pergi ke sana. Banyak fasilitas dan mudah aksesnya. Kemudahan itu yang diidam-idamkan masyarakat Indonesia yang cenderung ingin mendapatkan segalanya dengan mudah. Ini tentu berbeda dengan sebuah desa terpencil di Indonesia seperti desa Hopong di Sumut. Desa ini sejak jaman merdeka sampai sekarang belum pernah merasakan listrik. Berbeda sekali dengan Jakarta yang listriknya melimpah ruah. Fasilitas lain seperti air bersih, sekolah, rumah sakit mudah sekali didapatkan di Jakarta. Belum lagi kecanggihan teknologi berupa internet yang seolah membuat dunia ada di genggaman kita. Mudah sekali menjangkau belahan dunia yang lain hanya dengan satu kali klik. Teringat aku akan kejadian sekitar satu tahun lalu. Aku ada amanah yang mengharuskanku mengirimkan tulisan dalam waktu cepat. Saat itu aku benar-benar butuh internet. Internet yang biasanya mudah ku akses di tempat tinggalku selama ini ternyata sulit sekali aku dapatkan di desa tempat asalku. Walhasil aku harus menempuh sekitar 2 km untuk mendapatkan akses ini. Sungguh butuh perjuangan untuk kesana.
Kemudahan-kemudahan di kota besar terutama di Jakarta menjadi satu dari sekian alasan untuk mendorong orang pindah ke Jakarta. Selain itu Jakarta adalah tempat di mana lebih dari 80% uang yang ada di Indonesia beredar disana. Ini menjadi daya tarik lain bagi penduduk Indonesia untuk mengais rejeki di kota metropolis ini. Walhasil Jakarta menjadi wilayah yang padat hunian. Kepadatan penduduk ini kemudian diikuti dengan semakin banyaknya tempat tinggal yang dibangun dan banyaknya kendaraan yang, diikuti dengan banyaknya permasalahan yang terjadi. Banyak sampah, kriminalitas meningkat, macet, banjir (karena banyaknya hunian yang dibangun tanpa diikuti dengan kesadaran untuk memperhatikan kesehatan lingkungan).
Berkenaan dengan pemasalah kepadatan hunian di Jakarta, berhembuslah opini untuk memindahkan ibukota Indonesia ke daerah lain. Apa ini solusi? tentu tidak. Memindahkan ibukota ke daerah lain bukanlah solusi bagi permasalahan di Jakarta. Justru ini hanya pelarian semata. Kalo ditinjau ulang penyebab kepadatan penduduk di Jakarta karena kesenjangan dengan daerah lain di Indonesia. Tentunya permasalahan kesenjangan inilah yang harusnya di selesaikan.
Minggu, 11 April 2010
Laknat AlLoh bagi Pelaku LGBT
“dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk)
Adanya pelaku LGBT ini merupakan imbas dari diberlakukannya liberalisme di Indonesia. Liberalisme yang merupakan paham yang lahir dari upaya pelepasan agama dari kehidupan dunia (sekulerisme). Bahwa AlLoh tidak diperkenankan untuk ikut campur dalam kehidupan manusia. Masya AlLoh betapa sombongnya manusia...
Dengan kebebasan ini telah memberikan keluasan bagi pelaku LGBT untuk mengekspresikan perilaku menyimpang mereka. Mereka seolah mendapatkan legitimasi bagi mereka untuk mempublikasikan dirinya ditengah masyarakat. Sementara itu masyarakatpun seolah sudah tersihir dengan ide kebebasan, HAM, toleransi. Bahwa pelaku LGBT ini harus dihormati. Mereka adalah sama-sama manusia yang memiliki hak untuk memilih jalan mana yang akan diambilnya. Sungguh pandangan yang menyesatkan.
Melihat realitas ini tidak selayaknya seorang muslim hanya diam, menertawakan pelaku LGBT atau bahkan justru mendukung mereka. Dalam permasalahan ini seharusnya umat Islam menjalankan peran mereka untuk beramar makruf nahi mungkar. Merebaknya LGBT jelas merupakan kemungkaran yang harus diamar ma'rufi dan merupakan kemaksiatan yang harus dibasmi. Dalam penertiban dan pembasmian kemaksiatan ini negaralah yang berperan. Negara haruslah meregulasi dan membuat kebijakan untuk melarang aktifitas maksiyat ini. Tidak hanya LGBT, aktifitas lainpun yang merupakan kemaksiyatan dan melanggar aturan AlLoh SWT Sang Pencipta manusia juga harus dilarang. Dan bagi pelakunya harus diberi sangsi yang setimpal.
Namun memang dalam pelaksanaan peraturan ini tidak akan bisa dilakukan di negara yang menerapkan sekulerisme. Harus ada sistem yang secara tegas dan kaffah menjalankan aturan AlLoh SWT. Negara inilah yang bernama Khilafah Islamiyah.
Selasa, 16 Februari 2010
Kematian Gus Dur, Dongkrak isu Pluralisme

Isu Pluralisme kembali gencar disuarakan sejak meninggalnya Gus Dur. Bapak SBY bahkan menyebut Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme. Lebih dari itu bahkan dalam pemakaman dan doa bersama untuk beliau dihadiri juga oleh lintas agama. Sungguh ironis mengingat beliau lebih dikenal sebagai Bapak Pluralisme daripada seorang Kyai.
Banyak orang mendefinisikan Pluralisme sebagai penghargaan terhadap keaneka ragaman agama. Realitanya penggunaan istilah Pluralisme bukan tidak sebatas. Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari 2 suku kata yakni Plural dan Isme. Jika digabungkan Pluralisme adalah sekumpulan pemahanam tentang kemajemukan. Bukan hanya mengakui keberagaman agama tapi juga adanya upaya menyamakan semua agama. Termasuk melakukan aktivitas-aktivitas turunannya seperti mengadakan doa bersama, merayakan Natal bersama, dialog antar agama.
Menyikapi adanya upaya menyamakan semua agama harusnya umat Islam waspada. Dalam hal mengakui adanya keberagaman agama. Ini memang adalah sebuah realita yang ada di tengah masyarakat. Islampun mengakuinya seperti yang termaktub dalam surat Al Hujurat ayat 13:
“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi AlLoh”
Di awal ayat tersebut AlLoh SWT telah menerangkan adanya keberagaman suku dan bangsa serta identitas-identitas agama selain Islam. Artinya Islam mengakui pluralitas (keberagaman). Namun di ayat yang sama pula AlLoh SWT menafikan adanya pluralisme. Karena jelas dinyatakan bahwa yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa. Telah umum diketahui bahwa bertakwa bermakna menjalankan perintah AlLoh dan menjauhi larangan-Nya. Yang ini jelas menunjuk pada orang Islam. Lebih lanjut AlLoh secara nyata telah memuliakan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridoi oleh AlLoh SWT. Ini seperti yang difirmankan AlLoh dalam surat Ali Imron ayat 19:
“Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi AlLoh hanyalah Islam”
Lalu bagaimana kedudukan orang non Islam dalam Islam? Islam adalah rahmatan lil alamin. Bukan hanya rahmatan lil Islam. Benar memang Islam mengakui eksistensi agama-agama lain tetapi tidak dianggap benar. Dalam payung Daulah Khilafah Islam seorang non Islam diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah masing-masing. Pada pelaksanaan pernikahan, berpakaian, dan mengkonsumsi makanan merekapun dibiarkan memenuhinya sesuai dengan tata cara agamanya masing-masing. Artinya disini Islam mengakui keberadaan agama yang lain.
Menyikapi maraknya isu Pluralisme hendak umat Islam tidak ikut-ikutan menyuarakan ide pluralisme. Yang harus dilakukan adalah meyeru umat non Islam untuk masuk Islam (tanpa pemaksaan) dan menyeru umat non Islam untuk hidup dalam naungan Khilafah Islamiyah, Upaya penyeruan inipun juga ditujukan kepada umat Islam untuk kembali dalam naungan Islam. Hanya Islamlah yang mampu melindungi umat Islam dari berbagai ide-ide menyesatkan termasuk di dalamnya isu pluralisme.