Senin, 23 April 2012
Generasi Iwak Peyek
Minggu, 02 Oktober 2011
SEBUAH CITA2

Adek, cita2nya kalau sudah besar mau jadi apa? Jadi panglima perang. Seorang adik kosq berkomentar. “Cita2nya koq ga umum mbak”. Tersenyum miris aq dengan komentar itu. Sebenarnya itu adalah tanggapan wajar bagi seseorang yang telah menghabiskan hidupnya di sistem kapitalis saat ini. Namun bagi seorang muslim bukankah yang dicita-citakan adalah masuk surga? Dan syahid adalah jalan bebas hambatan untuk bisa masuk syurga. Dengan paradigma ini tentunya cita2 menjadi seorang panglima perang adalah salah satu jalan untuk menjemput syahid. Sayangnya cita2 itu sekarang berganti dengan cita2 ‘keduniawian’ semisal menjadi dokter, pilot, pengusaha, artis dsb. Cita2 yang kebanyakan terinspiras untuk mendapatkan status ataupun materi. Inilah dunia kita saat ini. Dunia yang memenuhi angan-angan manusia untuk mendapat kekayaan semata. Adapun akherat itu adalah urusan nanti.
Senin, 15 Agustus 2011
ASI makanan untuk Bayi, tak bisa tergantikan
Beberapa waktu yang lalu aku mendapati dua orang ibu sedang bercengkrama di pinggir jalan sambil menyusui anaknya. Geli waktu pertama kali melihatnya. Tapi seketika itu juga merasakan miris. Miris? Kenapa? karena sejatinya yang terjadi saat itu adalah ibu-ibu tadi tidak sedang memberi ASI kepada bayinya. Tapi memberi 'dot' alias botol yang berisi susu formula. Dan mirisnya itu dilakukan secara berjamaah.
Sungguh amat disayangkan, saat ini banyak sekali ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan, pada 2006 sebanyak 64,1 persen ibu memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya. Namun pada 2007 turun menjadi 62,2 persen dan kembali mengalami penurunan pada 2008 ke angka 56,2 persen. Angka ini terus menurun tiap tahunnya. Padahal ASI adalah makanan terbaik untuk bayi yang tidak ada padanannya. Karena diciptakan oleh Dzat yang Maha Mengetahui hambaNya AlLoh SWT. Tidak ada satupun makanan yang menyamai ASI. SubhanalLoh...
Namun kenyataan ini rupanya tidak disadari ibu. Banyak ibu meninggalkan perannya untuk menyusui ini dengan berbagai alasan. Bagi ibu-ibu dari golongan ekonomi menengah ke bawah ekonomi menjadi alasan utama. Kurangnya pendapatan suami, menuntut dia untuk membantu suaminya demi untuk mencukupi hidupnya. Walhasil untuk menyusui anakpun tidak ada waktu. Namun 'penyakit' ini rupanya tidak hanya dialami oleh ibu-ibu dari golongan menengah ke bawah tapi juga ibu-ibu dengan tingkat ekonomi yang mapan. Alasan klise yang diberikan mereka karena mereka takut dengan menyusui akan membuat postur tubuhnya tidak lagi indah. Masya AlLoh...
Inilah realitas yang ada di negeri ini. Para wanitanya banyak yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Padahal AlLoh SWT telah memberikan peran yang tepat untuknya yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sedangkan peran untuk mencari nafkah dibebankan oleh AlLoh kepada suami. Namun di sistem Kapitalis saat ini -di saat semua hal dipandang dengan sudut kemanfaatannya, kebahagianan dipandang dari banyaknya materi yang didapatkan, disaat uang menjadi hal yang diagung-agungkan- peran yang diberikan oleh AlLoh ini tidak berjalan dengan semestinya. Sehingga permasalahan manusia semakin kompleks. Permasalahan yang tidak hanya dialami oleh orang dewasa, bahkan oleh anak-anak dan juga bayi. Inilah yang terjadi saat hukum-hukum AlLoh tidak lagi menjadi aturan yang dijalankan, akan tampak kerusakan yang nyata di bumi ini. Dan sekarang, semua itu telah terbukti.
Permasalahan ASIpun tak berhenti sampai disini. Beberapa golongan orang yang menyadari pentingnya ASI mencoba memberikan solusi untuk permasalahan ibu dan bayi ini dengan mengadakan Bank ASI. Bank ASI ini didesain layaknya Bank Darah dimana orang yang memiliki kelebihan darah bisa menyumbang ke orang yang kekurangan darah. Untuk Bank ASI, mekanismenya hampir sama, jika ibu kelebihan ASI maka diberikan kesempatan untuk menyumbangnya dan diberikan kepada yang kekurangan. Namun tidak sesimpel itu, ASI yang diberikan oleh para ibu ini nantinya akan dicampur dan dipasteurisasi untuk membunuh virus dan kuman yang kemungkinan ada. Ini yang kemudian menjadi permasalahan. Pada perkara ASI ini akan berkaitan dengan adanya saudara sepersusuan. Dimana keberadaan saudara sepersusuan ini di nashkan oleh AlLoh sebagai muhrim. Sehingga identitas ibu yang memberikan susu harus jelas, berikut dengan identitas anaknya. Sehingga di kemudian hari tidak ada kejadian saudara sepersusuan menikah. Dalam mekanisme Bank ASI yang dicontohkan oleh orang-orang Barat ini kejelasan dari identitas ini tidak ada karena semua ASI dicampur jadi satu. Apalagi yang terjadi saat ini keberadaan Bank ASI ini justru merupakan bentuk kapitalisasi untuk ASI. Dimana ASI yang telah diberikan secara cuma-cuma oleh AlLoh ini, akan mendapat bandrol harga dari perusahaan yang mengakumulasikannya. Dengan realitas ini semakin jelaslah kebobrokan dari Kapitalisme.
Rabu, 15 Juni 2011
MARAH, BENTUK KASIH SAYANG BENARKAH???

Secara naluriah orang tua memiliki rasa sayang terhadap anaknya. Itu ada dalam diri mereka karena AlLoh memang telah menganugerahkan kepada seluruh manusia rasa yang sama sejak manusia itu lahir. Ketika seorang itu memiliki anak, rasa sayangnya itu kadang melahirkan rasa was-was yang kadang tervisualisasi dengan marah. Sebuah kejadian beberapa saat yang lalu telah menunjukkan padaku bagaimana aplilasi dari marah karena sayang ini.
Pada suatu sore aku bersama dengan seorang ibu dan anaknya yang masih kecil. Kami hendak menempuh perjalanan yang lumayan panjang. Perjalanan ini kami tempuh mengendarai mobil yang dikemudikan oleh seorang ibu dosen. Dalam perjalanan ini sang anak berkeinginan untuk ikut mengemudikan mobil bersama ibu dosen. Sebuah keinginan yang membahayakan baginya dan semua orang yang ada di mobil tersebut. Tentu saja ibunya tidak memberikan ijin. Namun si anak memaksa dan mengeluarkan jurus andalan dari semua anak dengan menangis. Tangisnya begitu kencang dan menyayat hati. Selama aku bersamanya tidak pernah aku mendapati si anak ini menangis sedemikian rupa. Hingga bu dosen ini luluh dan berkeinginan untuk menuruti kemauan si anak. Tapi sang ibu mencegahnya. Ini dilakukan oleh beliau untuk memberikan pengajaran bagi anak bahwa hal itu berbahaya dan tidak patut dilakukan oleh anak di usia dia. Si ibu berusaha memberikan pengertian. Tapi namanya juga anak dia tidak begitu mengerti dengan apa yang disampaikan oleh ibunya dan menangis sejadi2nya. Namun si ibu tetap pada pendiriannya sembari memberikan pengalihan kepada anaknya. Namun tangisan si anak semakin kencang hingga terdengar dari luar mobil. Dengan keputusan yang berat si ibu memberikan hukuman kepada anaknya. Bukan dengan memukul tapi dengan tidak membolehkan anaknya untuk duduk di pangkuan beliau. Namun batin ibu ini bergejolak. Sembari memegangi anaknya yang dihukum berdiri dalam mobil sang ibu memberikan lagi kepada anaknya. Aku mendengar suara sang ibu bergetar. Ada rasa tidak ingin menghukum anaknya tapi beliau merasa ini juga perlu diberikan pengajaran kepada anaknya. Melihat kejadian ini tak terasa akupun menangis. Masya Alloh baru kali ini aku benar2 mengalami didepan mataku seorang ibu yang menangis karena marah pada anaknya.
Sebuah pelajaran aku petik dari kejadian ini. Aku benar2 kagum dengan sikap beliau memberikan pelarangan kepada anaknya dengan pengertian bukan hanya dengan sekedar melarang seperti yang banyak dilakukan oleh ibu2 saat ini. Dan yang membuatku terkesan pula adalah bagaimana amarah beliau tidak membuat beliau termakan dengan hawa nafsu tersebut hingga melampiaskan segala amarahnya kepada si anak. Beliau memang meberi hukuman tapi itu adalah dalam rangka mendidik si anak. Mungkin kita berfikiran anak sekecil itu mana ngerti dengan apa yang disampaikan ibunya. Mungkin benar apa yang anda fikirkan itu. Tapi lebih dari itu ada sebuah pelajaran berharga yang hendak diberikan si ibu kepada anaknya.
Mungkin Anda termasuk yang tidak sependapat dengan metode pendidikan anak dengan memarahai, melarang dan menghukum tapi sejatinya terkadang ketiga hal ini diperlukan sebagai proses pembelajaran anak. Dan ketiganya tidak berdiri sendiri tapi disertai dengan memberikan pengertian dan pemahaman kepada anaknya. Anak perlutau apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan. Semua ini tentunya tidak bisa ia dapatkan dengan sendirinya. Orang tua perlu mengajarkannya. Namun mengajarkan kepada anak perlu dilakukan secara berulang2. Anak yang masih kecil atau bayi memang secara logika dia tidak mampu mengerti apa yang kita katakan padanya. Namun ekspresi dan respon yang diberikan orang tua akan membekas pada sang anak sehingga itu menjadi memori bagi anaknya kelak. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memberikan ekspresi yang tapat pada anak untuk merespon prilakunya. Pada kasus memberi hukuman tadi, kita seharusnya tidak hanya menunjukkan ekspresi marah saja namun juga kasih sayang kita. Itu terwujud dari rasa keterpaksaan kita ketika memberi hukuman kepada sang anak. Sehingga anak mengerti bahwa hukuman yang diberikan orang tua kepada anaknya bukan karena orang tua benci kepadanya tapi itu adalah wujud kasih sayang mereka.
Minggu, 12 Desember 2010
APALAH ARTI SEBUAH NAMA
Seputar nama, aku juga pernah mendapatkan cerita tentang seorang anak yang diberi nama ayahnya dengan nama 'Syaithonirojim' (syetan yang terkutuk). Masya AlLoh bener miris. Mungkin dalam benak orang tuanya hendak memberikan nama Islami ke anaknya namun yang terjadi justru dia memberikan nama untuk anaknya dengan nama yang artinya sangat buruk. Dalam cerita lain, seorang anak dengan nada polos dan melas mengungkapkan arti dibalik namanya yakni wanita malam. Lantaran namanya adalah Lailatun Nisa'. Padahal dalam Islam nama adalah doa dan harapan. Setiap kali orang memanggil kita, harapannya mereka akan mendoakan kita. Lalu bagaimana dengan dua nama tadi? Bukannya mendoakan yang baik justru menjerumuskan. Oleh karenanya pemberian nama pada anak harusnya dipilih nama yang indah dan memiliki arti yang bagus pula. Bahkan Rosulullah menganjurkannya seperti yang tertuang dalam sabda beliau " Sesungguhnya kamu kelak pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu, maka perindahlah namamu" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban).
Memberi nama yang baik adalah kewajiban dari orang tua. Sama halnya dengan kewajiban orang tua yang lain yaknii mendidik orang tua maka dalam mencari nama yang baik bagi anak harus diupayakan dengan maksimal. Orang tua harus menyiapkan jauh-jauh hari dengan mengetahui artinya nama tersebut. Jangan sampai nama tersebut justru menjerumuskan anak. Paling tidak kalau memang kita tidak mengerti artinya mungkin kita bia mengikuti tradisi orang dahulu untuk meminta nama pada para ulama.