Minggu, 12 Desember 2010

APALAH ARTI SEBUAH NAMA


Banyak orang berkata, apalah arti sebuah nama. Bagiku itu penting banget. Coba bayangkan kalau kita ada di suatu tempat yang penuh dengan orang, sementara kita ada perlu dengan seseorang yang kita tidak tau namanya. Maka kita hanya akan b mengatakan. "Hey.. Hey...". Atau kita harus ribet dengan menagatakan " Hey kamu yang pake baju merah atau kamu yang rambutnya keriting, pake sepatu hitam, celana kotak-kotak dan atasan garis-garis." Susah kan? Dewasa ini yang berkembang di masyarakat adalah memberi nama anak dengan nama ke Barat-baratan yang bahkan mereka tidak ketahui.

Seputar nama, aku juga pernah mendapatkan cerita tentang seorang anak yang diberi nama ayahnya dengan nama 'Syaithonirojim' (syetan yang terkutuk). Masya AlLoh bener miris. Mungkin dalam benak orang tuanya hendak memberikan nama Islami ke anaknya namun yang terjadi justru dia memberikan nama untuk anaknya dengan nama yang artinya sangat buruk. Dalam cerita lain, seorang anak dengan nada polos dan melas mengungkapkan arti dibalik namanya yakni wanita malam. Lantaran namanya adalah Lailatun Nisa'. Padahal dalam Islam nama adalah doa dan harapan. Setiap kali orang memanggil kita, harapannya mereka akan mendoakan kita. Lalu bagaimana dengan dua nama tadi? Bukannya mendoakan yang baik justru menjerumuskan. Oleh karenanya pemberian nama pada anak harusnya dipilih nama yang indah dan memiliki arti yang bagus pula. Bahkan Rosulullah menganjurkannya seperti yang tertuang dalam sabda beliau
" Sesungguhnya kamu kelak pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu, maka perindahlah namamu" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

Memberi nama yang baik adalah kewajiban dari orang tua. Sama halnya dengan kewajiban orang tua yang lain yaknii mendidik orang tua maka dalam mencari nama yang baik bagi anak harus diupayakan dengan maksimal. Orang tua harus menyiapkan jauh-jauh hari dengan mengetahui artinya nama tersebut. Jangan sampai nama tersebut justru menjerumuskan anak. Paling tidak kalau memang kita tidak mengerti artinya mungkin kita bia mengikuti tradisi orang dahulu untuk meminta nama pada para ulama.


Kamis, 21 Oktober 2010

OLEH-OLEH DARI SOLO

Beberapa saat yang lalu aku bertemu dengan tanteku di rumah Budheku yang ada di Gresik. Ada oleh-oleh menarik yang aku dapatkan dari Tanteku yang tinggal di Solo. Bukan makanan maupun minuman melainkan sebuah kisah menarik perjalanan hidup tanteku di Solo. Dan ini hendak ku bagikan pada Anda semua.

Sudah lama tanteku dan keluarganya mencoba mengadu nasib di Solo. Agak aneh memang karena biasanya orang mencoba mengadu nasib ke daerah metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya, tapi ini Tanteku justru pergi ke Solo. Sebuah pengalaman menarik dari perjalanan pengaduan nasib keluarga tanteku ini berawal dari adanya orang yang menawarkan untuk menyewakan kiosnya yang ada di persimpangan jalan Raya. Tanteku yang memiliki jiwa pebisnis meski tidak pernah kuliah di FE dan sering mengalami kegagalan ketika melakukan bisnis, tertarik dan pada akhirnya menyewa tempat itu.

Dulunya tempat itu adalah sebuah warung makanan namun karena sepi akhirnya pemiliknya tidak mau melanjutkan usahanya. Tanteku tidak ingin mengulang hal yang sama maka beliau mencoba untuk mencoba berdagang yang lain yakni dengan menjual minuman siap saji dan jus. Dua tiga hari warung yang disewa tanteku masih sepi. Suatu hari ada seorang pengendara sepeda motor yang mampir ke situ dan mencari makanan. Namun tanteku menjawab disini tidak jual makanan. Lalu orang itu berkata “ Lah itu yang dimakan apa? “ Saat itu kebetulan tanteku sedang makan masakannya yang sengaja dimasak di warung itu untuk keluarganya. Serta merta tanteku menjawab “ Ini ndak dijual mas. Untuk makan sendiri. “ Orang itu menjawab “ Ndak papa bu apa saja deh, saya lapar.” Akhirnya tanteku mengambilkan makanan untuk orang tersebut. Keesokan harinya orang tersebut kembali ke warung tanteku. Tanteku tentu saja heran. Apalagi ketika orang itu kembali meminta untuk membeli makanan yang dimasak tanteku. Melihat keheranan tanteku, Orang tersebut mengungkapkan alasan. ” Masakan ibu enak. Kenapa ndak coba jualan nasi aja bu? “. Tanteku kemudian mengkonsultasikan hal ini pada Omku. Akhirnya jadilah Tanteku membuka warung nasi. Lama kelamaan Alhamdulillah warung tanteku ramai. Dan sekarang omset tanteku tidak kurang dari lima ratus ribu sehari. Alhamdulillah..

Kita tidak pernah tahu dari arah manakah AlLoh mendatangkan rizky. Hanya AlLohlah yang tau. Sebagai hambaNya kita tak patut mempertanyakan dimana dan dari arah manakah rizky itu datang. Kita hanya melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menjemput rizky. Meski tidak selalu rizky itu datang pada jalur itu. Namun yang pasti AlLoh akan lebih memuliakan orang yang berusaha dari pada yang hanya berdiam diri dan menunggu datangnya rizky. So, jangan berhenti berusaha. Okey!!!

Kamis, 14 Oktober 2010

'PUTRI AYU'

Beberapa hari ini banyak kejadian seru yang menimpaku. Pengalaman ini terjadi sejak aku sering berinteraksi dengan seseorang yang aku sebut saja 'putri ayu'. Ku sebut putri ayu lantaran memang dia layaknya sebuah putri cantik yang 'dikurung' dalam sebuah istana. Saking lamanya dia dalam istana itu hingga iya tidak pernah mengetahui kondisi yang ada di luar istana. Contoh kejadian, dalam hal yang aku anggap remeh seperti telepon umum. Sdh jadi rahasia umum kalo telepon umum itu fungsinya untuk telepon lokal aja. Tapi ternyata si putri tidak pernah tau. Kejadian lain yang semakin menguatkan kalo dia adalah seorang putri adalah ketika dia melakukan aktifitas rumah tangga. Banyak sekali kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi. Mulai dari mencuci buah hingga membersihkan tempat cuci piring, semua dilakukan seolah seperti pengalaman pertama baginya. Tentu saja terjadi banyak keunikan disana. Misalnya mencukupkan mencuci buah bergetah disaat buahnya belum dikupas. Tentu saja getah yang ada di dalam lapisan luar buah yang sudah dikupas masih ada dan walhasil yang makan buah masih merasakan pahitnya getah dari buah tersebut. Dan yang menjadi korban salah satunya adalah aku. :)
Dengan kejadian-kejadian yang aku alami bersamanya, aku sungguh bersyukur kepada AlLoh atas segala yang AlLoh berikan padaku. Dan satu hal lagi yang bisa ku ambil dari semua kejadian ini. Betapa memang seorang bayi lahir dalam keadaan suci. Tergantung orang tuanya akan menjadikan apa. Dengan realita si Putri ayu yang merupakan anak tunggal membuat dia menjadi satu-satunya tempat orang tuanya melimpahkan kasih sayang. Sehingga mungkin orang tuanya tidak ridho rasanya ketika si putri melakukan aktifitas yang berat. Dan jadilah iya layaknya seorang Putri.
Dari kejadian ini sebuah renuangan besar telah kita dapatkan bahwa betapa orang tua sangat berperan besar dalam membimbing anaknya. Apalagi ketika dia masih kecil. Peran ini memang adalah peran dari kedua orang tuanya, baik ayah maupun ibu. Namun tidak bisa dipungkiri ibu memiliki porsi yang besar dalam pembentukan anak. Dan memang itulah peran yang diberikan oleh AlLoh kepada seorang wanita. Sebagai ibu (yang melahirkan, membesarkan, membimbing dan mendidik anak) dan sebagai pengatur rumah tangga. Semua wanita dikodratkan demikian begitupun aku dan wanita-wanita yang lain.
Sebagai penutup, kepada para wanita2 di seluruh dunia, Sadari peran Anda. Jalankanlah dengan Amanah. Nikmati setiap perjalanan menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga sebagai anugerah yang telah AlLoh berikan kepada kita.

Rabu, 11 Agustus 2010

Jakarta oh Jakarta

Jakarta...
Belakangan ini beberapa orang yang ku kenal hijrah kesana. Wah tambah padat aja tu ibukota. Satu alasan yang sama yakni mengkuti suami. Wajar sih memang seorang istri sudah sepatutnya berada di dekat suami, memberi support dan menjadi teman berbagi suka dan duka. Kembali pada perkara pindah ke ibukota. Fenomena ini mungkin tidak hanya dialami oleh beberapa temanku saja. Banyak orang sekitar Jakarta atau bahkan dari luar pulau jawa juga merantau ke Jakarta. Apa gerangan yang menarik dari kota Jakarta sehingga mampu menjadi magnet buat banyak orang sehingga mereka berkeinginan pindah atau paling ga pergi ke Jakarta?

Jakarta, ibukota negara Indonesia.
Yups betul. Sudah umum diketahui bahwa DKI Jakarta adalah ibukota negara Indonesia. Anak SD saja tau. Dengan status Jakarta sebagai ibukota tentu saja Jakarta mengungguli daerah lain pada perkara sarana dan prasarana di hampir seluruh aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, dan hiburan berbagai fasilitas lain yang menggiurkan masyarakat Indonesia untuk pergi ke sana. Banyak fasilitas dan mudah aksesnya. Kemudahan itu yang diidam-idamkan masyarakat Indonesia yang cenderung ingin mendapatkan segalanya dengan mudah. Ini tentu berbeda dengan sebuah desa terpencil di Indonesia seperti desa Hopong di Sumut. Desa ini sejak jaman merdeka sampai sekarang belum pernah merasakan listrik. Berbeda sekali dengan Jakarta yang listriknya melimpah ruah. Fasilitas lain seperti air bersih, sekolah, rumah sakit mudah sekali didapatkan di Jakarta. Belum lagi kecanggihan teknologi berupa internet yang seolah membuat dunia ada di genggaman kita. Mudah sekali menjangkau belahan dunia yang lain hanya dengan satu kali klik. Teringat aku akan kejadian sekitar satu tahun lalu. Aku ada amanah yang mengharuskanku mengirimkan tulisan dalam waktu cepat. Saat itu aku benar-benar butuh internet. Internet yang biasanya mudah ku akses di tempat tinggalku selama ini ternyata sulit sekali aku dapatkan di desa tempat asalku. Walhasil aku harus menempuh sekitar 2 km untuk mendapatkan akses ini. Sungguh butuh perjuangan untuk kesana.

Kemudahan-kemudahan di kota besar terutama di Jakarta menjadi satu dari sekian alasan untuk mendorong orang pindah ke Jakarta. Selain itu Jakarta adalah tempat di mana lebih dari 80% uang yang ada di Indonesia beredar disana. Ini menjadi daya tarik lain bagi penduduk Indonesia untuk mengais rejeki di kota metropolis ini. Walhasil Jakarta menjadi wilayah yang padat hunian. Kepadatan penduduk ini kemudian diikuti dengan semakin banyaknya tempat tinggal yang dibangun dan banyaknya kendaraan yang, diikuti dengan banyaknya permasalahan yang terjadi. Banyak sampah, kriminalitas meningkat, macet, banjir (karena banyaknya hunian yang dibangun tanpa diikuti dengan kesadaran untuk memperhatikan kesehatan lingkungan).

Berkenaan dengan pemasalah kepadatan hunian di Jakarta, berhembuslah opini untuk memindahkan ibukota Indonesia ke daerah lain. Apa ini solusi? tentu tidak. Memindahkan ibukota ke daerah lain bukanlah solusi bagi permasalahan di Jakarta. Justru ini hanya pelarian semata. Kalo ditinjau ulang penyebab kepadatan penduduk di Jakarta karena kesenjangan dengan daerah lain di Indonesia. Tentunya permasalahan kesenjangan inilah yang harusnya di selesaikan.
Dalam sebuah peradaban Islam setiap bagian kota yang direncanakan untuk jumlah penduduk tertentu dibangun masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga. Sebagian besar warga tidak perlu menempuh jarak jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar dan semua memiliki kualitas standar. Hal ini seperti yang dilaporkan oleh pengelana Barat. Jika dikonversikan ke masa sekarang maka tata kota dan perencanaan yang sedemikian rupa akan mampu menyelesaikan persoalan kesenjangan dan yang tidak kalah pentingnya juga mampu memberi solusi untuk kemacetan yang sering terjadi di kota-kota besar.

Minggu, 11 April 2010

Laknat AlLoh bagi Pelaku LGBT


LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender)isu ini memang agak lama. Tapi ternyata masih banyak orang menaruh perhatian terhadap mereka. Buktinya kapan hari aku mendapati sebuah acara di Unair yang bertajuk Anggrek Bulan di Malam Hari (Kehidupan Transgender). Awal kali pertama aku mendengar akan diadakannya acara tersebut aku sempat kaget. Pasalnya beberapa saat yang lalu aku juga mendengar BEM Unair mengadakan aksi untuk mengadakan pertemuan 4th ILGA (International Lesbian Gay Association)- Asia Regional Conference (Konferensi se-Asia ke-4 Asosiasi kaum gay, lesbian, biseksual, transgender dan intersex. Benar-benar bertentangan kan? Di satu sisi ada pihak yang dengan keras menentang dan di sisi lain justru ada pihak yang mendukungnya. Dan yang lebih miris lagi mereka mayoritas kaum muslimin.
Dalam permasalahan LGBT harusnya semua umat Islam memiliki kesamaan sikap. Yakni menentangnya. Karena nyata-nyata AlLoh SWT pun telah melaknat mereka. Dalam Surat Huud ayat 82 dikisahkan bahwa AlLoh telah mengadzab Kaum nabi Luth telah melakukan homoseksual. Begitupun dalam surat Al Anbiyaa' ayat 74 AlLoh SWT berfirman:

“dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik”.

Adanya pelaku LGBT ini merupakan imbas dari diberlakukannya liberalisme di Indonesia. Liberalisme yang merupakan paham yang lahir dari upaya pelepasan agama dari kehidupan dunia (sekulerisme). Bahwa AlLoh tidak diperkenankan untuk ikut campur dalam kehidupan manusia. Masya AlLoh betapa sombongnya manusia...

Dengan kebebasan ini telah memberikan keluasan bagi pelaku LGBT untuk mengekspresikan perilaku menyimpang mereka. Mereka seolah mendapatkan legitimasi bagi mereka untuk mempublikasikan dirinya ditengah masyarakat. Sementara itu masyarakatpun seolah sudah tersihir dengan ide kebebasan, HAM, toleransi. Bahwa pelaku LGBT ini harus dihormati. Mereka adalah sama-sama manusia yang memiliki hak untuk memilih jalan mana yang akan diambilnya. Sungguh pandangan yang menyesatkan.

Melihat realitas ini tidak selayaknya seorang muslim hanya diam, menertawakan pelaku LGBT atau bahkan justru mendukung mereka. Dalam permasalahan ini seharusnya umat Islam menjalankan peran mereka untuk beramar makruf nahi mungkar. Merebaknya LGBT jelas merupakan kemungkaran yang harus diamar ma'rufi dan merupakan kemaksiatan yang harus dibasmi. Dalam penertiban dan pembasmian kemaksiatan ini negaralah yang berperan. Negara haruslah meregulasi dan membuat kebijakan untuk melarang aktifitas maksiyat ini. Tidak hanya LGBT, aktifitas lainpun yang merupakan kemaksiyatan dan melanggar aturan AlLoh SWT Sang Pencipta manusia juga harus dilarang. Dan bagi pelakunya harus diberi sangsi yang setimpal.

Namun memang dalam pelaksanaan peraturan ini tidak akan bisa dilakukan di negara yang menerapkan sekulerisme. Harus ada sistem yang secara tegas dan kaffah menjalankan aturan AlLoh SWT. Negara inilah yang bernama Khilafah Islamiyah.


Selasa, 16 Februari 2010

Kematian Gus Dur, Dongkrak isu Pluralisme


Isu Pluralisme kembali gencar disuarakan sejak meninggalnya Gus Dur. Bapak SBY bahkan menyebut Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme. Lebih dari itu bahkan dalam pemakaman dan doa bersama untuk beliau dihadiri juga oleh lintas agama. Sungguh ironis mengingat beliau lebih dikenal sebagai Bapak Pluralisme daripada seorang Kyai.
Banyak orang mendefinisikan Pluralisme sebagai penghargaan terhadap keaneka ragaman agama. Realitanya penggunaan istilah Pluralisme bukan tidak sebatas. Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari 2 suku kata yakni Plural dan Isme. Jika digabungkan Pluralisme adalah sekumpulan pemahanam tentang kemajemukan. Bukan hanya mengakui keberagaman agama tapi juga adanya upaya menyamakan semua agama. Termasuk melakukan aktivitas-aktivitas turunannya seperti mengadakan doa bersama, merayakan Natal bersama, dialog antar agama.
Menyikapi adanya upaya menyamakan semua agama harusnya umat Islam waspada. Dalam hal mengakui adanya keberagaman agama. Ini memang adalah sebuah realita yang ada di tengah masyarakat. Islampun mengakuinya seperti yang termaktub dalam surat Al Hujurat ayat 13:

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi AlLoh”

Di awal ayat tersebut AlLoh SWT telah menerangkan adanya keberagaman suku dan bangsa serta identitas-identitas agama selain Islam. Artinya Islam mengakui pluralitas (keberagaman). Namun di ayat yang sama pula AlLoh SWT menafikan adanya pluralisme. Karena jelas dinyatakan bahwa yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa. Telah umum diketahui bahwa bertakwa bermakna menjalankan perintah AlLoh dan menjauhi larangan-Nya. Yang ini jelas menunjuk pada orang Islam. Lebih lanjut AlLoh secara nyata telah memuliakan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridoi oleh AlLoh SWT. Ini seperti yang difirmankan AlLoh dalam surat Ali Imron ayat 19:
“Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi AlLoh hanyalah Islam”

Lalu bagaimana kedudukan orang non Islam dalam Islam? Islam adalah rahmatan lil alamin. Bukan hanya rahmatan lil Islam. Benar memang Islam mengakui eksistensi agama-agama lain tetapi tidak dianggap benar. Dalam payung Daulah Khilafah Islam seorang non Islam diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah masing-masing. Pada pelaksanaan pernikahan, berpakaian, dan mengkonsumsi makanan merekapun dibiarkan memenuhinya sesuai dengan tata cara agamanya masing-masing. Artinya disini Islam mengakui keberadaan agama yang lain.
Menyikapi maraknya isu Pluralisme hendak umat Islam tidak ikut-ikutan menyuarakan ide pluralisme. Yang harus dilakukan adalah meyeru umat non Islam untuk masuk Islam (tanpa pemaksaan) dan menyeru umat non Islam untuk hidup dalam naungan Khilafah Islamiyah, Upaya penyeruan inipun juga ditujukan kepada umat Islam untuk kembali dalam naungan Islam. Hanya Islamlah yang mampu melindungi umat Islam dari berbagai ide-ide menyesatkan termasuk di dalamnya isu pluralisme.

AWAS BAHAYA VAKSIN MENGINTAI GENERASI PENERUS KITA


       Anak adalah calon generasi penerus bangsa. Penerus tongkat estafet dan masa depan umat. Keadaan anak di masa sekarang dipengaruhi masa balitanya. Terutama di dua tahun pertama. Dua tahun pertama adalah masa keemasan bagi terbentuknya otak manusia. Oleh karenanya masa ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Demikian pula pada anak-anak usia balita. Usia di bawah lima tahun ni merupakan masa-masa yang rawan gizi dan penyakit. Sehingga pemasalahan di masa ini memerlukan perhatian. Merujuk pada kondisi ini masyarakat Indonesia kemudian dengan gotong royong mengadakan posyandu. Dengan tujuan mulia untuk membimbing masyarakat dalam upaya menjaga kesehatan balita. Di Posyandu ini berbagai aktivitas dilakukan termasuk vaksinasi. Satu yang ada di dalam benak masyarakat bahwasannya vaksinasi adalah upaya untuk memproteksi balita dari penyakit. Namun, belakangan ini timbul kontroversi seputar vaksinasi.
     
     Kontroversi yang terjadi seputar bahaya vaksin bagi anak bukanlah isapan jempol belaka. Pada tahun 1977, Dr. Jonas Salk (penemu vaksin polio pertama) menyatakan bahwa suntikan vaksin polio adalah penyebab utama dari timbulnya penyakit polio di AS sejak tahun1961. Tanggal 12 Juli 2002 Reuters News Service melaporkan hampir 1000 pelajar sekolah dilarikan ke rumah sakit setelah disuntik vaksin Ensefalitis di Timur Laut negeri Cina. Pada tahun1970-an data menunjukkan bahwa dari 260.000 penduduk India yang menderita TBC, sebagian besar adalah mereka yang telah mendapatkan vaksin BCG. Pada tahun 1972, di Ghana terjadi serangan penyakit campak yang luas dengan angka kematian yang tinggi, padahal pada tahun 1967 Ghana diklaim oleh WHO sebagai negara yang telah bebas penyakit campak setelah sebelumnya 96% penduduknya telah mendapat vaksin campak.
     Realita yang ada di berbagai belahan dunia ini mendorong kita untuk mewaspadai pelaksanaan vaksinasi pada generasi penerus kita. Apalagi setelah diteliti ternyata berbagai vaksin yang tersebar di Indonesia bersumber dari zat-zat yang diharamkan oleh ALLoh SWT. Seorang pakar dari Amerika mengatakan bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi. Selain sumber-sumber di atas, beberapa vaksin juga dapat diperoleh dari aborsi calon bayi manusia yang sengaja dilakukan. Vaksin untuk cacar iar, beberapa vakin juga dapat diperoleh dengan menggunakan fetal cell line yang diaborsi, MRC-5 dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line diploid manusia. Wi-38 adalah isolat yang diperoleh dari paru-paru bayi perempuan berumur tiga bulan. 
Belum lagi jika dilihat kandungan vaksinnya ternyata justru mengandung zat-zat yan berbahaya bagi tubuh. Aspek bahaya vaksin disebabkan oleh bahan-bahan dasarnya yang dibuat dari bahan-bahan dasarnya yang dibuat dari bahan-bahan kimia dan zat-zat lain yang bersifat racun bagi tubuh. Diantaranya adalah formaldehyde yang dikenal sebagai zat karsinogen, tnimerosal yang mengandung merkuri (logam berat beracun), aluminium, phospat bahan pembuat deodoran yang beracun, dan zat-zat beracun lainnya seperti fenol aceton.

     Melihat sumber dan kandungan yang ada dalam vaksin, lalu mengapa Indonesia masih mau melaksanakan program tersebut? Telah diketahui bersama bahwa program vaksinasi telah menjadi program global (internasional) yang dicanangkan WHO dan UNICEF. Umumnya tiap negara telah menerapkan beberapa jenis vaksin yang diwajibkan untuk diberikan pada bayi dan anak-anak dengan jenis dan jadwal pemberian yang disesuaikan dengan kondisi tiap negara. Negara-negara ini kemudian menurut tanpa tau skenario yang ada. Leon Chaitow penulis buku ‘Vaccination And Immunization” menyatakan bahwa keberlangsungan program vaksinasi bukanlah disebabkan oleh ‘asumsi’ manfaat vaksin melainkan oleh tiga hal pokok yaitu:(1) keuntungan hingga jutaan dollar US yang didapat oleh perusahaan-perusahaan obat, (2) proyek vaksin telah menjadi landasan yang kokoh bagi dunia medis yang secara tidak layak telah dibangun dengan segala upaya dan kehormatan dunia medis sehingga harus tetap dipertahankan, (3). Propaganda medis telah berhasil mengubah pemikiran mayoritas umat manusia untuk berfikir sesuai keinginan mereka sehingga masyarakat menerima vaksin tanpa berfikir secara kritis. Namun berbeda halnya dengan Menkes Indonesia Siti Fadilah Supari. Beliau mengeluarkan pendapat kotroversial untuk menghentikan vaksinasi bagi anak-anak untuk penyakit meningitis, gondongan, dan penyakit-penyakit lainnya. Beliau khawatir perusahaan-perusahaan obat asing menggunakan Indonesia sebagai lahan pengujian. 
Sebagai seorang muslim, hamba AlLoh yang beriman bahwa AlLoh sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan maka sudah seharusnya seorang muslim menyandarkan segala aktivitas pada apa yang telah AlLoh gariskan. Bgitupun dalam permasalahan vaksin yang ternyata menggunakan zat-zat yang diharamkan AlLoh SWT dan berbahaya bagi tubuh maka kita harusnya meninggalkan hal tersebut tanpa adanya keberatan sama sekali.
Untuk permasalahn pertahannan tubuh sendiri AlLoh SWT telah memberikan sistem pertahanan manusia yang terbaik dan tidak ada tandingannya. Sistem pertahanan itu antara lain:
1. Kulit tubuh yang utuh.
2. Sekresi kelenjar sebasea di dalam kulit, mengandung faktor antimikroba seperti asam lemak dan Ph yang rendah.Banyak kuman, virus dan jamur yang peka terhadap asam organik dengan konsentrasi rendah.
3. Aliran air mata,air liur dan air seni.
4. Rambut getar pada sistem pernafasan yang selalu bergerak dengan konstan.
5. Refleks batuk.
6. Cairan mukosa membran dengan faktor antimikrobanya , misalnya lisozim.
7. Suhu tubuh, banyak mikroorganisme yang tidak dapat menginfeksi karena pertumbuhannya tidak baik pada 37 derajat Celcius.
8. Umur yang sangat muda, kurang dari 3 tahun atau sangat tua di atas 70 tahun, lebih peka terhadap serangan mikroorganisme karena respon imunnya kurang optimal.
9. Keseimbangan hormonal, seperti pada pemakaian kortison untuk mengontrol kelainan autoimun atau reaksi tolakan,akan lebih muda terserang infeksi karena peningkatan kortikosteroid dapat mengakibatkan penurunan respon inflamasi dan daya tahan tubuhnya terhadap infeksi.

    Tahapan kedua dari pertahanan tubuh adalah penjagaan atas kesehatan. Dalam upaya penjagaan atas kesehatan Islam mengajarkan dua hal. Yakni ketaqwaan keapada AlLoh SWT dan ketaatan pada syariah AlLoh SWT.. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terjadinya seuatu penyakit dalam tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh sugesti orang tersebut terhadap badannya. Ketaqwaan merupakan sumber energi yang sangat penting agar terpelihara daya kelola emosi positif. Memberikan energi positif dalam jiwa untuk bisa hidup dengan berfikir positif pula. Ketaqwaan ini harus dimanifestasikan dengan ketundukan pada hukum-hukum AlLoh SWT. Dalam hal mempertahankan kesehatan dan pertahanan tubuh AlLoh SWT telah menurunkan seperangkat aturan tentangnya. Diantaranya adalah mengkonsumsi makanan yang halal, hidup bersih dan sehat, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitarnya. Diantara upaya penjagaan terhadap individu muslim ini maka hal yang tidak kalah pentingnya adalah jaminan negara atas pemenuhan kebutuhan pokok bagi warganya. Islam memandang pemenuhan kebutuhan pokok adalah kewajiban negara terhadap rakyatnya. Kebutuhan pokok ini meliputi pendidikan, pangan, sandang, dan kesehatan. Demikian AlLoh SWT telah memberikan beban pekerjaan ini pada penguasa/Negara sebagaimana hadist RasululLoh SAW yang artinya “Sesungguhnya penguasa itu ibarat perisai”. Ini menunjukkan bahwa dalam upaya penjagaan imunitas bukanlah masalah sepele. Namun berkaitan dengan posisi penguasa sebagai pengemban amanat rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh AlLoh SWT di akherat kelak.