Jumat, 11 November 2011

MAHASISWA PUNYA PERAN, MAHASISWA DALAM INCARAN

Kawan….

Lihatlah bayang yang terpantul dari cermin

Inilah kita

Sosok mahasiswa harapan bangsa


Kawan…

Di pundak kita ada peran besar menanti

Ada gelar mulia yang menyelimuti

Sebagai agen perubahan pembawa misi


Namun kini…

gelar itu luntur karena waktu

Peran itu terlupa oleh tugas yang membelenggu

Tersihir oleh Pragmatisme yang membuat kita acuh

Saat masyarakat semakin miskin

Kita hanya memikirkan diri sendiri

Ketika adik2 kita semakin bodoh

Kita sibuk dengan urusan pribadi


Kawan…

Kita tak lagi seperti Kawarizmi

Intelektual muslim sejati

Yang berfikir untuk menyelesakan masalah negeri


Kawan…

Kita tak lagi seperti Muhammad al-Fatih

Pejuang gagah penentang adidaya

Melawan tiran dengan segala upaya


Kawan…

Kini saatnya kita menjadi agen peubah

Membongkar keadaan yang semakin memperdaya

Mengembalikan umat pada fitrahnya


Kawan…

Kini saatnya kita memimpin perubahan

dengan lantang menyerukan perbaikan

hingga serak mengobarkan kebangkitan

berlandaskan Islam

bernafaskan iman

dengan syariat

sebagai penyelamat umat

Minggu, 02 Oktober 2011

SEBUAH CITA2


Adek, cita2nya kalau sudah besar mau jadi apa? Jadi panglima perang. Seorang adik kosq berkomentar. “Cita2nya koq ga umum mbak”. Tersenyum miris aq dengan komentar itu. Sebenarnya itu adalah tanggapan wajar bagi seseorang yang telah menghabiskan hidupnya di sistem kapitalis saat ini. Namun bagi seorang muslim bukankah yang dicita-citakan adalah masuk surga? Dan syahid adalah jalan bebas hambatan untuk bisa masuk syurga. Dengan paradigma ini tentunya cita2 menjadi seorang panglima perang adalah salah satu jalan untuk menjemput syahid. Sayangnya cita2 itu sekarang berganti dengan cita2 ‘keduniawian’ semisal menjadi dokter, pilot, pengusaha, artis dsb. Cita2 yang kebanyakan terinspiras untuk mendapatkan status ataupun materi. Inilah dunia kita saat ini. Dunia yang memenuhi angan-angan manusia untuk mendapat kekayaan semata. Adapun akherat itu adalah urusan nanti.

SATU KESEMPATAN UNTUK SEUMUR HIDUP

Masyarakat saat ini sering menjadikan beberapa momen kehidupan saat ini sebagai momen terpenting dalam hidup. Seperti misalnya saat wisuda, menikah, punya anak dsb. Sehingga untuk momen2 ini seringkali penuh dengan persiapan. Yang hendak wisuda bingung menyiapkan baju apa yang hendak dipake saat wisuda, mau nyalon dimana, mau nggandeng siapa dsb. Tak luput pula yang hendak menikah. Sibuk pula menyiapkan tempat, tata rias, pakaian, makanan, minuman, souvenir dsb. Jarang aku mendapati orang yang menyiapkan keduanya dengan mencari tau hukum AlLoh seputar bagaimana hukumnya ada di dalam tempat yang bercampur baur (baca: tempat wisuda), bagaimana hukumnya berias? Bagaimana seharusnya acara yang dilaksanakan agar tidak melanggar hukumnya AlLoh? Kalaupun ada yang kemudian mencari tau tentang itu semua atau bahkan sudah tau, maka polemik berikutnya yang melingkupi mereka adalah pendapat orang yang menyatakan bahwa ini adalah satu kesempatan seumur hidup. Ga papa lah menor sedikit, kan cuma sekali. Ga papalah bercampur antar pria dan wanita, kan Cuma sekali. Ga papa lah tidak berkerudung kan cuma hari ini. Buntut2nya, pasti AlLoh ngerti.

Naif... itu komentarku untuk orang2 yang mengatakan semua itu. Mereka menganggap bahwa satu kali itu saja adalah satu momen itu harus dimaklumi karena selama ini sudah taat pada perintah AlLoh. Aku hendak mengatakan kepada orang yang memgang prinsip tadi, Justru karena ini hanya sekali seumur hidup, kenapa kita judtru melakukan pengkhianatan kepada AlLoh setelah sekian lama hidup dalam ketaatan kepada AlLoh? Mengapa seumur hidupmu kamu sia-siakan dalam satu hari saja?

Formalitas

Beberapa hari yang lalu aku berkesempatan untuk berdiskusi dengan seorang dosen hukum. Kami sedikit menyinggung tentang RUU Intelejen. Sedikit kata yang membuatku takjub karena keluar dari seorang dosen hukum. Sebuah pengakuan bahwa beberapa kali fakultas hukum juga dimintai saran terkait dengan RUU yang digodok pemerintah. Namun apa yang terjadi pada saran tersebut, beliau menyatakan tidak tau apakah dipakai atau tidak. Berikutnya beliau menegaskan. Tapi itu kayaknya meminta saran itu hanya formalitas belaka.

Dubraks....

Senin, 15 Agustus 2011

ASI makanan untuk Bayi, tak bisa tergantikan


Beberapa waktu yang lalu aku mendapati dua orang ibu sedang bercengkrama di pinggir jalan sambil menyusui anaknya. Geli waktu pertama kali melihatnya. Tapi seketika itu juga merasakan miris. Miris? Kenapa? karena sejatinya yang terjadi saat itu adalah ibu-ibu tadi tidak sedang memberi ASI kepada bayinya. Tapi memberi 'dot' alias botol yang berisi susu formula. Dan mirisnya itu dilakukan secara berjamaah.

Sungguh amat disayangkan, saat ini banyak sekali ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan, pada 2006 sebanyak 64,1 persen ibu memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya. Namun pada 2007 turun menjadi 62,2 persen dan kembali mengalami penurunan pada 2008 ke angka 56,2 persen. Angka ini terus menurun tiap tahunnya. Padahal ASI adalah makanan terbaik untuk bayi yang tidak ada padanannya. Karena diciptakan oleh Dzat yang Maha Mengetahui hambaNya AlLoh SWT. Tidak ada satupun makanan yang menyamai ASI. SubhanalLoh...

Namun kenyataan ini rupanya tidak disadari ibu. Banyak ibu meninggalkan perannya untuk menyusui ini dengan berbagai alasan. Bagi ibu-ibu dari golongan ekonomi menengah ke bawah ekonomi menjadi alasan utama. Kurangnya pendapatan suami, menuntut dia untuk membantu suaminya demi untuk mencukupi hidupnya. Walhasil untuk menyusui anakpun tidak ada waktu. Namun 'penyakit' ini rupanya tidak hanya dialami oleh ibu-ibu dari golongan menengah ke bawah tapi juga ibu-ibu dengan tingkat ekonomi yang mapan. Alasan klise yang diberikan mereka karena mereka takut dengan menyusui akan membuat postur tubuhnya tidak lagi indah. Masya AlLoh...

Inilah realitas yang ada di negeri ini. Para wanitanya banyak yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Padahal AlLoh SWT telah memberikan peran yang tepat untuknya yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sedangkan peran untuk mencari nafkah dibebankan oleh AlLoh kepada suami. Namun di sistem Kapitalis saat ini -di saat semua hal dipandang dengan sudut kemanfaatannya, kebahagianan dipandang dari banyaknya materi yang didapatkan, disaat uang menjadi hal yang diagung-agungkan- peran yang diberikan oleh AlLoh ini tidak berjalan dengan semestinya. Sehingga permasalahan manusia semakin kompleks. Permasalahan yang tidak hanya dialami oleh orang dewasa, bahkan oleh anak-anak dan juga bayi. Inilah yang terjadi saat hukum-hukum AlLoh tidak lagi menjadi aturan yang dijalankan, akan tampak kerusakan yang nyata di bumi ini. Dan sekarang, semua itu telah terbukti.

Permasalahan ASIpun tak berhenti sampai disini. Beberapa golongan orang yang menyadari pentingnya ASI mencoba memberikan solusi untuk permasalahan ibu dan bayi ini dengan mengadakan Bank ASI. Bank ASI ini didesain layaknya Bank Darah dimana orang yang memiliki kelebihan darah bisa menyumbang ke orang yang kekurangan darah. Untuk Bank ASI, mekanismenya hampir sama, jika ibu kelebihan ASI maka diberikan kesempatan untuk menyumbangnya dan diberikan kepada yang kekurangan. Namun tidak sesimpel itu, ASI yang diberikan oleh para ibu ini nantinya akan dicampur dan dipasteurisasi untuk membunuh virus dan kuman yang kemungkinan ada. Ini yang kemudian menjadi permasalahan. Pada perkara ASI ini akan berkaitan dengan adanya saudara sepersusuan. Dimana keberadaan saudara sepersusuan ini di nashkan oleh AlLoh sebagai muhrim. Sehingga identitas ibu yang memberikan susu harus jelas, berikut dengan identitas anaknya. Sehingga di kemudian hari tidak ada kejadian saudara sepersusuan menikah. Dalam mekanisme Bank ASI yang dicontohkan oleh orang-orang Barat ini kejelasan dari identitas ini tidak ada karena semua ASI dicampur jadi satu. Apalagi yang terjadi saat ini keberadaan Bank ASI ini justru merupakan bentuk kapitalisasi untuk ASI. Dimana ASI yang telah diberikan secara cuma-cuma oleh AlLoh ini, akan mendapat bandrol harga dari perusahaan yang mengakumulasikannya. Dengan realitas ini semakin jelaslah kebobrokan dari Kapitalisme.

Senin, 25 Juli 2011

PNS Vs PEDAGANG


Berawal dari pembicaraanku dengan saudaraku yang saat ini ada di negeri orang. Kami banyak berdiskusi hingga sampai pada pembicaraan tentang permasalahan negeri ini. Kami mengeluhkan tabiat bangsa ini yang suka meniru bangsa lain. Terutama dalam hal ini bangsa-bangsa Barat yang notabene tampak 'wah' dihadapan mereka. Namun yang disayangkan apa yang ditiru bukanlah hal yang baik. Hanya pada sisi cara berpakainan, gaya hidup, pergaulannya etc. Etos kerja yang 'dianggap' merupakan sisi positif dari orang-orang sana tidak turut dicontoh. Sampailah akhirnya kami pada pembahasan PNS. Apa yang terjadi di negeri ini? Masyarakat di Indonesia sangat suka sekali menjadi pegawai PNS. Ini terlihat dari bejibunnya jumlah orang yang mengikuti PNS tiap tahunnya. Bahkan cenderung meningkat.

Kenapa pembahasan etos kerja nyambung ke PNS? Ini lantaran kami memandang bahwa selama ini kebanyakan PNS yang kami temui adalah orang-orang dengan etos kerja yang kurang. Sering kami dapati bahwa dalam waktu kerja mereka, mereka sering menggunakan waktu kerjanya untuk melakukan aktifitas lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka. Padahal mereka saat itu sedang mengabdi pada negara dan digaji oleh negara. Entah mengapa mereka seperti itu apakah karena memang menunda-nunda pekerjaannya atau karena memang tidak ada pekerjaan. (Kalau memang dikarenakan tidak ada pekerjaan mengapa pemerintah masih saja menambah jumlah PNS tanpa mengefektifkan kinerja mereka?). Dengan melihat realitas yang ada pada PNS, sedangkan disisi lain keberadaan mereka (baik sedang bekerja atau tidak) tetap digaji oleh pemerintah, maka banyak orang Indonesia memimpikan pekerjaan tersebut. Sungguh pemikiran yang cukup simple. Berbagai carapun dilakukan untuk menjadi PNS. Bahkan sudah jadi rahasia umum kalau posisi menjadi PNS ini banyak diperjualbelikan.

Namun pekerjaan di dunia ini bukan hanya menjadi PNS banyak pula orang yang bermatapencaharian sebagai pedagang. Mungkin orang-orang ini terilhami dengan sebuah hadist yang menyatakan 9 dari 10 pintu rizki itu ada pada perdagangan. Terlepas dari itu semua jika kita mencoba membandingkan antara PNS dan pedagang akan kita dapati orang yang memiliki etos kerja yang lebih tinggi itu adalah pedagangnya. Meskipun aku tidak menafikan bahwa ada PNS yang rajin dan ada pula pedagang yang malas. Namun secara umum pedagang memiliki etos kerja yang lebih tinggi. Berbeda dengan PNS pedagang sering kali melakukan inovasi dan kreasi agar dagangannya laku. Dari sini kita liat kesungguhan pedagang untuk bekerja lebih dibanding PNS.

Beberapa waktu yang lalu aku medapati seseorang yang memberikan statement bahwa secara kepasrahan kepada AlLoh, pedagang memiliki tingkat kepasrahan yang lebih tinggi dari PNS. Pernyataan ini aku coba fahami. Hingga aku pada sebuah kesimpulan bahwa pernyataan ini benar. PNS dengan gaji yang diterimanya setiap bulan memiliki tingkat ketergantungan terhadap gajinya. Mereka seolah sudah tenang dengan adanya jaminan gaji yang diterimanya tiap bulan. Alasan ini pula yang mendasari seseorang untuk memilih sebagai PNS. Ada jaminan hidup bahkan bukan hanya untuk dirinya tapi untuk anak dan istrinya. Ditambah lagi ketika dia sudah pensiun dia masih mendapat jaminan untuk hidupnya. Beda dengan pedagang. Dia tidak pernah tahu apakah hari ini barangnya akan laku atau tidak. Hari ini bisa makan atau tidak. Ini yang kemudian mendorong seseorang untuk menyerahkan segala urusannya kepada AlLoh SWT. Yakin bahwa AlLohlah yang tau kapan dagangannya laku. Dia yakin AlLoh SWT lah yang Maha Pemberi Rezeki. Sehingga dia pasrah dan mendekat kepada AlLoh untuk memohon bantuan. Meskipun ini juga tidak membuat kita pada akhirnya memasrahkan segala urusan kepada AlLoh tanpa berusaha. Dari sinilah kemudian aku mendapatkan kesimpulan bahwa pernyataan ini benar. Wallahu'alam bi showab